GENS UNA SUMUS

KITA ADALAH SATU KELUARGA

Jumat, 03 Desember 2010

Penelitian Terhadap Catur

Penelitian Terhadap Catur

Banyak sudah artikel yang membahas tentang manfaat catur. Boardgame ini memang yang paling populer diantara sekian banyak boardgame yang ada saat ini. Maklum permainan ini banyak digemari oleh pecintanya dari yang berumur tidak lebih dari empat tuhun hingga kakek-kakek yang berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Lalu bagaimana sih penelitian di berbagai negara terhadap manfaat catur ini. http://ompundaru.wordpress.com memaparkan dan mengulasnya dalam Teratur Bertutur Catur (Untuk Perkembangan Anak?)
Papan hitam putih 8×8 mendapatkan citra buruk sebagai hobi orang tanpa kerjaan, yang kalau ditekuni tidak memberi masa depan. Syukurlah citra itu perlahan-lahan hilang dengan tampilnya beberapa anak-anak Indonesia di pentas catur kelas dunia. Penelitian para ahli menemukan kegunaan dari hobi main catur secara teratur.

Satu diantaranya adalah hasil penelitian di negara bagian Texas, AS. Siswa antara kelas 3 dan kelas 5 SD yang tergabung dalam klub catur di sekolahnya memiliki keunggulan dalam hal membaca dan matematika dibandingkan teman-teman sekelasnya. Di Kanada, sebanyak 437 murid kelas 5 diberi tambahan main catur dalam kurikulum pelajaran matematikanya. Mereka dipisahkan dalam 3 kelompok besar dengan jam tambahan main catur berbeda untuk setiap grup. Hasilnya? Kelompok yang jam main caturnya paling banyak ternyata paling mahir dalam soal-soal problem solving masalah-masalah matematika dan juga pemahaman pada soal-soal matematika berbasis cerita.

Artinya, ternyata ada korelasi positif antara main catur dan keunggulan logika, cara berpikir, khususnya dalam matematika dan membaca. Yang terakhir ini membutuhkan bukan saja keterampilan membaca kata per kata, tapi juga melihat dan menemukan cerita secara keseluruhan. Hal itu memang merupakan isu utama dalam catur, apa yang dilakukan pada langkah pertama, akan memberikan pengaruh besar di permainan akhir dan menentukan apakah akan menang atau tidak.

Cerita soal pentingnya catur tidak berhenti sampai di sini. Di Zaire, sebuah negeri di Afrika, murid berumur 16-18 tahun yang diberi latihan catur ternyata memiliki pemahaman lebih tinggi dalam spasial (ruang), numerik (deretan angka), pengetahuan verbal (bahasa dan kata-kata) serta pekerjaan-pekerjaan administratif. Sebuah hasil penelitian yang melibatkan 100.000 guru di Venezuela menemukan adanya hubungan antara main catur dan kenaikan signifikan angka IQ murid-murid sekolah dasar. Itu berlaku untuk anak lelaki dan perempuan, tak peduli latar belakang kelas sosialnya.

Karena alasan-alasan itulah sudah sejak lama permainan catur dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar di berbagai negara. Dan itu tidak pernah disesali. Propinsi Quebec Kanada, yang pertama kali memasukkan catur ke dalam kurikulum sekolahnya untuk murid kelas 2 sampai 7 (setara 1 SMP), mencetak angka tes matematika tertinggi di Kanada. Negara itu juga mencatat keunggulan tes matematika dibandingkan tetangganya, Amerika Serikat.

Salah satu juara dunia catur dari Amerika, GM Yasser Seirawan, pernah menulis keuntungan bermain catur berjudul 5R. R pertama adalah writing. Setiap pemain catur sesuai standar FIDE harus menuliskan notasi buah catur yang dimainkannya. Ini melatih disiplin, konsistensi dan pengarsipan. R kedua adalah reading. Untuk bisa menang dari lawannya, setiap pemain catur harus belajar dari partai-partai lainnya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. R ketiga adalah arithmetic. Setiap pemain harus bisa menghitung dengan cepat sisa bidak miliknya dan lawannya agar tidak masuk dalam permainan konyol, kehabisan bidak atau perwira lebih cepat dari lawan. Pendeknya, setiap pemain punya 8 bidak dan 6 perwira, plus 1 ratu dan 1 raja.

R keempat adalah responsibility. Tiap pemain sendirian di sana. Tidak ada contekan, tidak ada pembisik, tidak ada sekondan (asisten) yang bisa menolong. Ia harus bertanggung jawab sendirian, memikirkan konsekuensi langkahnya sendirian. R terakhir adalah reasoning atau logika. Mengapa ia memilih maju dan bukan mundur, makan bidak lawan bukan menghindar, menguasai suatu jalur tertentu dan bukan skak lawan, semua ada alasannya. Si anak dalam hidupnya akan terbiasa mendaftarkan sejumlah besar opsi, mencoret beberapa di antaranya dengan segera, menyusunnya dalam skala prioritas, menganalisa, membandingkan satu sama lain dan kemudian dengan kebulatan tekad memilih satu karena yang paling logis dan menguntungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar